Posts filed under 'Kambing'
Program kambing setelah hampir setahun

Orang kampung kami mempercayai setiap tangan memiliki kemujurannya sendiri. Ada yang dianugerahi kemujuran berdagang, ada juga bertani. Dan ada juga tangan yang dari sananya dianugerahi kemujuran dalam memelihara hewan piaraan.
Hoki, istilah orang kota. Apapun yang dikelola, bisa menjadi sumber kehidupan bagi si empunya. Begitulah orang kampung kami memahami cara Tuhan memberi rejeki.
Tak terkecuali dalam hal donasi kambing. Program bloggers for bangsari yang sudah berlangsung hampir setahun ini (penggalangan dimulai September – November tahun 2007 ) itu paling tidak telah sedikit membantu perekonomian anak-anak Bangsari.
Hamdan misalnya. Saat itu anak yatim tertua dari tiga bersaudara ini memperoleh jatah 2 bibit dan 3 anakan (serta 1 pejantan yang dipergilirkan juga untuk pemelihara yang lain).
Karena keuletannya, kambingnya berbiak menjadi 10 ekor (5 sudah induk, 1 jantan dan 4 anakan).
Sekarang keadaan ekonomi keluarga bocah laki-laki yang berada di sekolah menengah itu menjadi sedikit lebih baik. Kini ia bisa membayar sekolah dengan lancar. Dan yang terpenting, biaya sekolah adik-adiknya juga sudah tersedia.
Dari sebanyak 16 anak yang mendapatkan “bantuan” memang tak sedahyat perkembangan kambing yang dipiara hamdan. Kebanyakan perkembangannya biasa saja. Sehingga belum memungkinkan untuk dialihkan ke anak lain yang membutuhkan.
Malang dialami oleh Arif Fauzi yang pada awalnya mendapatkan 2 anakan kambing etawa. Satu mati keracunan dan satunya lagi sampai sekarang tidak/belum bunting. Tampaknya dia harus lebih bersabar. Konon jenis kambing etawa perlu waktu lebih lama untuk memeliharanya sampai beranak. Tapi dia memutuskan untuk mundur. Kambingnya dilimpahkan ke Saefulloh.
Nasib tak begitu baik juga dialami Amin Ridho. Satu kaki kambingnya patah dan diamputasi sehingga kambingnya akan diganti dalam waktu dekat. Untungnya, satunya lagi dalam keadaan gemuk dan sehat. Sayangnya, belum bunting.
Yang paling unik adalah apa yang dilakukan oleh Zaenuri. Tampaknya ia tak sabar untuk segera memperoleh hasil yang banyak tanpa kerja keras. Inginya, ia mendapatkan bantuan kambing tanpa syarat. Karena menolak kesepakatan, ia mundur dan mengembalikan kambing yang telah dipiaranya selama sebulan. Kambingnya dilimpahkan ke Amin Makmun.
Selama hampir setahun sejak program bloggers for bangsari di luncurkan, secara umum perkembangan kambing cukup memuaskan. Dari semula hanya 46 ekor (19 induk, 4 jantan dan 23 anakan) yang diwujudkan secara bertahap dalam jangka beberapa bulan, telah berkembang menjadi 70 ekor (31 induk, 5 jantan dan 34 anakan). Nyaris dua kali lipat.
Satu dua indukan sudah hampir siap dipindah-tangankan, namun secara umum belum bisa dikarenakan masih belum cukup menghasilkan secara hitung-hitungan mereka.
Yang lumayan membanggakan, salah satu pemelihara kambing (Yasrofi) sudah meneruskan di Aliyah baru kampung kami.
Untuk laporan rinciannya silahkan lihat disini. Gambar-gambarnya bisa dilihat disini.
Terima kasih pada panitia pesta blogger tahun lalu yang sudah mengijinkan kami bergerilya selama acara.
9 comments August 20, 2008
Email dari Mba Sofia Kartika tentang Bloggers for Bangsari
Pada 3 Juni 2008 12:03, Sofia Kartika (sofia.kartika@gmail.com menulis:
Dear Pak
Saya berencana menulis panjang soal blog dan MDG’s, saya butuh informasi mengenai bangsari, sebenarnya saya juga membutuhkan informasi stop aksi kelaparan, tapi saya tidak memiliki kontaknya, apakah bapak memiliki?
Untuk kepentingan penulisan tersebut, saya ada beberapa pertanyaan, soal blogger for bangsari:
- Pertanyaan klasik, bagaimana perkembangannya sekarang? apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain?
- Apa untungnya program bangsari yang disosialisasikan melalui blog ?
- Dan mengapa isu pendidikan menjadi penting dipilih?
Mungkin itu dulu pak, saya minta alamat FAQ nya bangsari di blog yang mana yah?, saya kehilangan alamatnya.
Terima kasih sebelumnya
Salam
Sofie
Jawaban saya
Mba Sofie,
Terima kasih atas apresiasinya terhadap kambing bangsari.
Mengenai Stop kelaparan, saya rasa akan lebih tepat jika mba sofie menghubungi mba Chika, yang setahu saya adalah salah satu penggagasnya.
sekarang mengenai pertanyaan mba sofie
pertanyaan pertama: bagaimana perkembangannya sekarang? apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain?
Sejauh ini, kami sudah berhasil mengumpulkan sebanyak Rp 20.625.000, – yang sudah kami salurkan menjadi sejumlah 28 kambing. Ada juga kami terima bantuan dalam bentuk kambing sebanyak 15 ekor dari salah satu donatur. sehingga sekarang total kambingnya ada 43 ekor. Menurut info dari bapak saya yang memantau langsung di lapangan, beberapa kambing indukan sudah beranak, namun jumlahnya belum saya konfirmasi sejauh ini. Setiap perkembangan, saya update di sini. Namun beberapa bulan belakangan saya belum sempat mudik, sehingga informasi terbaru belum sempat saya update. mohon maklumnya.
Sisa saldo sejauh ini Rp 3.520.000,- yang oleh dewan guru MTs tersebut akan digunakan pada awal tahun ajaran ini. Sejauh ini panitia di Jakarta memutuskan untuk menghentikan pengumpulan dana (meskipun di tingkat lapanan masih membutuhkan) dengan alasan:
- supaya penyaluran dana yang terkumpul bisa tersalurkan dengan baik.
- untuk melihat perkembangan program ini di lapangan.
- untuk menghindari kesan “mencari uang”.
- jika dirasa perlu, mungkin akan dibuka kembali penggalangan dana untuk itu.
Mengenai apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain, sejauh ini belum. Saya dan teman teman sesama blogger sudah pernah mencoba menjajagi kemungkinan di tempat lain. Teman teman di Jawa timur pernah mencoba hal ini. Hanya saja, sejauh ini kami belum menemukan orang yang bersedia mengurusi hal ini di tempat lain.
pertanyaan kedua: Apa Untungnya program bangsari yang disosialisasikan melalui blog?
Keuntungan sosialisasi melalui blog yang kami rasa:
- sarana yang mudah, murah dan efektif
- jejaring ranah blog yang kuat
- pengguna internet adalah kalangan yang mapan secara ekonomi, jadi kemungkinan lebih tepat sasaran
- jangka waktunya tak terbatas, sehingga diharapkan tercapai dua hal: penggalangan solidaritas akan terus bisa digalang dan yang kedua bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan yang kurang lebih sama di tempat lain
pertanyaan ketiga: mengapa isu pendidikan menjadi penting dipilih?
Ya karena kebetulan saya berasal dari kampung bangsari itu. saya melihat, kemiskinan dan kebodohan adalah yang sangat sulit di berantas. Banyak masalah sosial berawal dari kemiskinan. Satu-satunya cara, menurut saya dalam mengatasi masalah bangsari ya dengan pendidikan. Masalahnya, menyekolahkan anak menurut orang miskin di kampung saya itu adalah kerugian dalam 2 hal sekaligus:
- sekolah hanya menghabiskan biaya
- jika tak sekolah, si anak bisa membantu orang tua mencari nafkah
sehingga pemberian kambing diharapkan bisa mengatasi 2 hal:
- si anak bisa tetap sekolah
- si anak juga menghasilkan uang selama sekolah dengan memelihara kambing. Kambing juga sering jadi aset keluarga
Sekian dulu jawaban dari saya, jika ada yang kurang jelas, silahkan kontak saya di 081578820013. Atau silahkan datang ke bunderan HI setiap jumat malam sekitar jam 21:00. Atau jika dirasa jadwalnya kurang tepat, silahkan kontak saya untuk bertemu di waktu dan tempat yang lain.
terima kasih…
6 comments June 3, 2008
Cerita dari tur wedus bagian 2: kunjungan kambing

Saat kami sampai ke bangsari, pinjaman kambing yang sudah disalurkan sebanyak 43 ekor. Adapun jumlah anak yang sudah mendapatkan pinjaman kambing adalah sebanyak 16 anak, 3 orang sedang dalam tahap tindak lanjut dan 2 anak sebagai cadangan. Daerah sebarannya meliputi: Karang reja (dusun yang saya tinggali), Cipaku ( di ujung timur bangsari, dekat hutan perbukitan), Medeng (sebelah Cipaku), Sidadadi (bersebelahan dengan dusun saya di arah barat), Cililing (sebelah barat Sidadadi) dan Jakatawa (dekat Sitinggil, di arah selatan). Saldo yang tersisa masih 3, 52 juta rupiah yang rencananya akan digunakan untuk 3 anak lagi dalam waktu dekat. Nama anak dan tempat tinggalnya adalah sebagai berikut:
- Cipaku (7 anak): Nur Huda, Amin Rido, Andriyanto, A. Baehaqi, Saefulloh, Nurotun Hasanah, Yasrofi
- Medeng (3 anak): Hamdan, A. Rubangi, Wifayatul Amani (1)
- Karangreja (2 anak): Irfan Sutrisno, Arif Faozi
- Sidadadi (2 anak): Bilkis Andiyah, Zaenuri
- Jakatawa (1 anak): Basirin
- Cililing (1 anak): Wifayatul Amani (2)
- On Progress: Tukiran dan Samsul Maarif (Karangreja), Muhsinun (Petenanangan, dekat Gandrung Mangu)
- Cadangan: Nasirotul Fajriyah (Karangreja), Umi Faizah (Medeng)
Catatan: terdapat 2 nama kembar dengan orang yang berbeda, atas nama Wifayatul Amani.
Sebagai tambahan informasi, semalam saya mendapat 2 pesan pendek dari rumah. Pesan pertama mengabarkan satu kambing jenis etawa yang dipelihara Arif Nurfaozi mati akibat keracunan pakan. Pesan kedua berisi berita gembira, kambing Wifayatul Amani (1) telah melahirkan 2 ekor jantan.
Laporan detilnya bisa diunduh disini.
Karena para penerima kambing tersebar di beberapa tempat di bangsari, kami mengunjungi mereka menggunakan mobil pinjaman berikut sopirnya dari bu lik dan 2 sepeda motor. Bapak saya, Iqbal, Hadi, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita mengendarai mobil. Saya, Ibun, mukhlis (adik saya) dan gembong (adik ipar saya), serta baha (tetangga rumah) mengendarai sepeda motor. Tujuan pertama adalah dusun Cipaku dan Medeng, sekitar 2 kilometer dari rumah saya. Di sini ada 7 murid yang menerima pinjaman. Daerah ini relatif tertinggal dibanding daerah lain di bangsari. Sedangkan Medeng bersebelahan dengan Cipaku, juga masih dekat dengan hutan. Di sini ada 3 murid yang menerima pinjaman kambing.
Baru saja hendak sampai di tujuan, pepeng saya mendapat telpon dari pepeng. Begitu saya angkat telpon, terdengar suara dari seberang sana. “Makan dulu ndak?” Eh, dii tengah jalan tiba tiba dia bilang:
“Lha maunya gimana?”
“Ya dijemput no….”
“Ok. Segera menuju tekape. Sendiri pa sama temen?”
“Sendiri.”
“Sip”
Klik! Telpon pun dimatikan dan saya meluncur menjemput pepeng yang baru tiba dari semarang. Begitu ketemu, saya salami dan langsung nangkring di belakang saya. Melewati rumah saya, saya tawari:
“Ndak, masih kenyang”
“Dari pagi perutku ndak kemasukan nasi. Laper nih…”
Gubrak!
“Jadi, balik nih?”
“Mmm… Ngga usah deh. Ntar aja, ngga papa”
Perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, saya ketinggalan kunjungan. Terus terang, selain penerima pertama tidak satupun dari daftar yang bapak saya beri saya kenal sebelumnya. Nama-nama itu sendiri dikumpulkan bapak bersama dewan guru. Jadi, saat saya sampai, saya tak tahu anak keberapa dan nama yang sedang dikunjungi. Balibul punya rekaman videonya lengkap.
Dari Cipaku, kami menuju medeng. Anak pertama adalah Wifayatul Amani. Dia sedang membantu ibunya memasak di dapur. Saya sempat menuju dapur dan sempat menyapa neneknya yang sedang terbaring sakit di dipan dekat meja makan yang kosong.
“Ngga sakit kok. Cuma terkena seng dan susah dibawa jalan. Kalo dibawa jalan sakitnya terasa sampai ke perut”, katanya.
“Langsung ke dokter ya. Semoga cepat sembuh.”
Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore dan langit bermendung tebal. Kami segera pamit untuk mengunjungi Rubangi dan Hamdan. Seperti sudah diceritakan pada seri pertama, rumah mereka bersebelahan. Di rumah Rubangi kami mendapati satu-satunya kambingnya (bukan kambing dari program ini) yang baru beranak di ruang tamu. Ya, di ruang tamu sebelah meja dan tempat duduk tamu. Ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur, tempat jemuran dan tempat sepeda. Setelah ngobrol sebentar, kami pun pamit. Ternyata ibunya sempat menyuguhi kami semua segelas teh panas. Lumayan untuk menghilangkan haus dan menghangatkan badan. Hujan mulai turun dan kami harus bergegas. Setelah menyeruput teh, kami menuju hamdan.
Rumah Hamdan cuma berjarak sekitar 50 meter. Dia dan 2 saudaranya yatim. Seperti kebanyakan daerah situ, ibunya buruh. Hujan yang semakin deras dan waktu yang sudah jam 5 membuat kami menyudahi kunjungan ini.
Saya berencana esok harinya kita mengunjungi sisanya, sekitar 6 orang lagi plus 3 orang yang dalam proses. Namun teman-teman yang lain punya pandangan lain.
“Kunjungan sudah cukup merepresentasikan, jadi beso ke Nusakambangan saja”, usul salah satu.
“Betul”, kata yang lain serempak.
“Ok, besok kita kesana.”
Dasar ngga mau rugi, bilang aja pingin jalan-jalan. hehehe
Saya langsung teringat pada blogger cilacap ini. Untuk minta panduan dan minta makan-makan gratis. Memanfaatkan keseleban kami tentunya. hehehehe.
6 comments January 8, 2008
Cerita dari tur wedus bagian 1: perjalanan
Akhirnya yangberangkat ke bangsari dari Stasiun Kota ada 9 orang. Gus Hadi Pitik, Kyai Iqbal Balibul, Ibun, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita (yang baru kami kenal secara fisik) dan saya sendiri. Mila hanya mengantarkan kami sampai kereta berangkat. Ada acara keluarga di Bandung esok harinya. Iqbal hampir saja ketinggalan kereta setelah sebelumnya terjebak macet dari serpong dan dia baru muncul 5 menit sebelumpemberangkatan. Kang pres memutuskan tidak ikut disebabkan sedang meriang selama seminggu, begitu juga istrinya. Yudi harus menyelesaikan proyek besarnya di kantor. Pito sedang terkena wajib pulang setelah liburan panjang sebelumnya harus ngendon di kantor. Meski begitu, dia sempat ikut menunggu rombongan kami berangkat dari kos kebon kacang. KW jauh-jauh hari sebelunya sudah mengabari tak bisa ikut. Sam Hedi sedang banyak pekerjaan plus tak bisa meninggalkan kebaktian akhir tahun. Begitu pun rombongan dari semarang (kecuali pepeng) dan jogja juga belum bisa bergabung.Sepanjang jalan sampai dengan bandung, penumpang terus bertambah banyak dan sepertinya tidak ada yang turun. Mungkin karena bertepatan dengan libur 4 hari, yang tentu saja menjadi alasan bagi orang jakarta untuk keluar kota. Tapi kereta ekonomi sepanjang saya tahu memang tidak pernah kehabisan penumpang. Mau libur atau tidak tetap saja banyak penumpang. Di Bandung, Bahaudin tetangga saya yang (seperti kebanyakan pemuda sana) bekerja di perusahaan garmen, ikut bergabung. Dengan wajah pucat pasi karena tak tidur, kaki bengkak akibat tak bisa bergerak leluasa, badan lengket dan bau, kebelet kencing dan pup, serta lapar plus haus yang mendera, sampailah kami di Gandrung. Sesampainya di rumah, makanan sudah menunggu. Oseng-oseng belut bakar pedas, opor mentok, oseng-oseng pepaya, oseng-oseng tempe, lumbu kobis favorit dan mendoan menunggu disantap. Mandi dengan cepat dan sesudahnya kami pun makan. Badan lelah perut kenyang, kami pun tidur. Sekitar jam sepuluh kalo tak salah ingat, dan baru saya baru bangun jam setengah satu. Saya bangunkan yang lain untuk sholat dan makan siang. Jam 2 siang, supir bu lik sudah siap
Dari stasiun Gandrung, kami naik bus ke Sitinggil. Sekitar 15 menit perjalanan. Di sini kami sempat mampir sebentar ke rumah kakak saya untuk meminjam motor. Dari Sitinggil jarak rumah saya masih 3 kilo lagi. Vita diboncengkan ibun dengan motor, dan Mita naik ojek. Gus pitik dan Kyai Balibul ngajak berjalan kaki sambil melemaskan otot. Yang lain mengamini. Jadilah kami bertujuh berjalan kaki.
Sepertiga jalan, warung mendoan di tepi saluran irigasi langganan saya sudah buka. Kami pun mampir. Pagi-pagi begini cocok sekali rasanya makan mendoan panas yang lebarnya seperti buku tulis itu sambil ngopi atau teh nasgitel. Namun karena jalan, berkeringat dan kehausan, kami semua memesan es teh. Hmmm… Mak nyus! Bertujuh kami cuma habis 17 ribu untuk 11 mendoan (rupanya sudah naik jadi seribuan sebuah) dan 7 es teh (juga seribu segelas).

Sehabis ngemil, ibun dan adik saya datang menjemput dengan sepeda motor. Balibul dan Gus pitik dibonceng duluan, sisanya jalan kaki. Lumayan untuk melemaskan kaki.
menunggu di depan rumah. Selanjutnya, kami mengunjungi kambing-kambing itu.
Add comment January 7, 2008
tour wedus ke bangsari
bagi yang berminat silahkan mendaftar (lewat komen juga boleh), atau datang saja langsung ke stasiun kota pada tanggal dan waktu tersebut. untuk menjaga kemungkinan tidak ketinggalan kereta dan memastikan mendapat tempat duduk, sebaiknya para pembeli tiket sudah standby di stasiun kota sebelum magrib. bisa juga konfirm dulu ke saya untuk reservasinya. halah. biaya sekali rp 24 ribu sekali jalan.
maap postingan ini tidak berhubungan dengan tulisan sebelumnya. soalnya lagi buru-buru mau jalan-jalan dulu nih. hehehehe.
Add comment December 11, 2007
Tutup
untuk anak-anak sekolah di bangsari ditutup. Dana brutto yang terkumpul sejauh ini sebesar Rp 21.450.000,- plus 15 ekor kambing yang dikirim secara langsung oleh seseorang ke bangsari. Setelah dikurangi dana kampanye berupa kaos dan sticker, netnya sebesar Rp 19.050.00,-.
Info sekilas dari bapak yang saya dengar via telepon, uang tersebut sudah dibelanjakan untuk membeli 28 ekor kambing dengan berbagai ukuran. Ditambah dengan 15 kambing sumbangan lain, total terdapat 43 kambing untuk mereka.
Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas segala apresiasi dan sumbangannya baik langsung maupun tidak.
Nah, selanjutnya kami mengajak saudara-saudara yang punya waktu dan kesempatan untuk meninjau para siswa tersebut saat akhir tahun ini. Anggap saja ini Tour de Bangsari. Siapa berminat, silahkan daftar. Gratis…
Pengumuman lain ada di balibul.
Add comment November 30, 2007
Penerima Kambing: Terimakasihku pada Blogger

Sore itu di tengah ngobrol dan ngopi bareng teman-teman sepabrik ipul menelepon. Menyampaikan kabar, seseorang akan menemuiku. Siapakah dia? Ternyata malaikat yang akan menyambungkan niat seseorang yang akan menyumbang sepuluh kambing langsung ke bangsari.
perempuan beranting panjang itu meminta tolong aku, untuk mengantarkannya menemui pak mahmudin. Pak mahmudin ini adalah ayah dari rubangi, salah satu anak penerima kambing pada project bloggers for bangsari ini.
Karena beliau mbaknya tak mau jadi seleb, ia tak mau disebut namanya. Bahkan untuk diketahui ia bekerja dimana pun, ia menolak. Nomor telepon kantor pun di setting private. Tak ingin menyalahgunakan fasilitas yang diberikan negara, katanya.
Dan kami pun, berhasil menemui pak mahmudin di jalan warung buncit raya. Di pintu masuk yang terbuat dari pagar seng. Pak mahmudin bertukang pada pembuatan gedung berlantai lima itu.

Dari roman mukanya dia cukup canggung menemui kami. Sore sehabis hujan itu ia memakai jaket kotak-kotak warna hijau yang memudar dan celana panjang coklat. Tampak pakaian itu kebesaran membungkus tubuhnya yang mungil. Ia baru saja mandi, tampak ujung rambut depannya yang masih basah.
Aku dan pak mahmudin lalu digiring mbaknya ke sebuah warung. Sambil menunggu ipul yang terjebak di busway. Di sodori buku menu, pak mahmudin, satu satunya pekerja di gedung yang berasal dari bangsari ini menolak. Entah karena canggug, malu-malu atau seperti alasannya, dia baru saja makan malam.
Sehari ia makan dua kali. Dengan kompor ia memasak menunya sendiri. Seminggu menghabiskan beras maksimal 5 liter. Beserta belanja lauk ia harus mengeluarkan lima puluh ribu rupiah.
Baru seminggu ia di jakarta, meninggalkan isteri dan kelima anaknya di bangsari. Dan rubangi, penerima bantuan bantuan kambing adalah anaknya nomor dua. Ragilnya sekarang baru kelas satu sekolah dasar.
Sebagai pekerja bangunan tak hanya kali ini. Ia pernah merantau ke makssar membangun pabrik semen selama sembilan bulan. “ya kemana saja mas, terserah nasib membawa”, katanya.
Tanganya membuka-buka buku menu lalu memesan susu coklat panas. Ke jakarta terpaksa ia lakukan karena di kampung ia tak punya sawah sendiri. Ia hanya maro (bagi hasil) dari sawah salah satu pak haji.
Sawah tadah hujan itu hanya bisa di tanami dua kali. Rendengan dan sadon. Musim tanam sadon, periode kedua ini kemungkinan panen hanya sekitar 50 persen karena tak adanya hujan. Sehingga kadang pak mahmudin memilih menanaminya dengan palawija dan sayur-sayuran.
“Pak bagaimana rasanya mendapatkan bantuan kambing? Tanya ipul
“Tentu saja senang, jawabnya sambil tersenyum. Sebelumnya ia juga memelihara kambing, namun terpaksa di jualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dia juga mengucapkan terimaksih banyak kepada ipul ( maksudnya juga kepada para donatur) karena ia telah merasa di tuntun, sehingga anaknya tetap bisa melanjutkan sekolah.
Tak terjebak seperti anak-anak lain yang malas sekolah. Kebanyakan mereka beranggapan, sekolah itu lama menghasilkan duitnya. Lebih baik langsung bekerja membantu orang tua. Apalagi anak perempuan, otomatis diplot sebagai tenaga kerja wanita di negeri kurma.
Sebulan lagi ia akan pulang. Menjenguk keluarga yang menunggunya. Dengan uang yang berhasil di kumpulkan pak mahmudin yang asli kebumen itu memilih naik kereta ekonomi dari stasiun senen yang harga tiketnya sekali jalan 27.500 rupiah.
Selama sebulan lebih itu ia sukses mengumpulkan uang sekitar 600-700 ribu. Sebenarnya ia adalah tukang, namun hanya dibayar sebagai “kenek”. Ia tak protes, meskipun tenaganya dihargai sehari 30 ribu rupiah.
Ia paham, sebenarnya upah harian yang ia terima jauh lebih besar. Namun telah di potong untuk mandor dan pegawai atasan lainnya.
Dari penghasilannya itu, andai bersisa ia simpan. Bukan ke bank namun ke rumah pak kyai yang mengelola pesantren. Sengaja ia tak menyimpan ke bank, karena ia ingin uang itu bisa dipakai untuk menabah modal dagang para santri.
Sekarang bangunan yang ia kerjakan sudah berdiri. Sudah sampai tahap plester dan finishing. Menurutnya masih sekitar lima sampai enam bulan untuk menyelesaikan gedung yang kata dia milik orang arab.
Ia bisa tidur di dalamnya. Di lantai dua, pak mahmudin membuat ranjang berukuran “single” yang berasal dari kayu bekas. Tampak pada keempat kaki ranjang itu menjulang setinggi badan pemain basket profesional.
Rupanya ranjang itu didesain multi fungsi. Diantara tiang-tiangnya, dipasang tali yang difungsikan sebagai jemuran dan tempat menaruh baju dan sarung. Di sebelahnya terdapat meja-mejaan tempat menaruh piring.
Pak mahmudin rupanya cukup kreatif, memanfaatkan botol aqua berukuran tanggung yang di potong sebagian sisi atasnya untuk menyimpan sendok. Lalu benda itu digantungkan pada paku di salah satu kaki ranjang.
Andai dipasang kelambu, ranjang itu akan mirip ranjang raja-raja jawa jaman dulu.
Bantuan disalurkan ke:
No rekening: 0751371054
Atas nama : Much. Syaefulloh
Bank BCA cabang Sabang Jakarta pusat
Email : much.syaefulloh@gmail.com, ipoul_bangsari@yahoo.com
YM! : ipoul_bangsari
HP: 081578820013
Alamat: Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta Pusat atau
atau ke Bapak saya yang mengurusi program ini di Bangsari
Darso Moh. Dahroni
d.a: dusun Karang Reja, RT 03 RW 04, desa Bulaksari (Bangsari), Kec. Bantarsari, Kab. Cilacap.
9 comments November 1, 2007
PB2007: Terima kasih Muktamar dan Pesta Blogger
Alhamdulillah sampai saat ini dana yang sudah berhasil dikumpulkan untuk program Bloggers fo Bangsari sebesar 8,75 juta (2,1 juta di Muktamar dan sisanya selama pesta) dan insyaallah masih bisa bertambah.
Teman teman komunitas HI: Kang Presiden yang telah berorasi mempresentasikan kampanye ini selama break season, Gus Hadik pitik yang telah mengkoordinir kampanye ini meski ternyata tidak kebagian undangan, Iqbal (Kyai Balibul Gembul) yang telah menyelenggarakan Muktamar dengan sukses dan kebingungan bagaimana caranya ngomong seratus lima puluh ribu kepada donatur bule-bulenya, Omith yang telah mengkoordinasi berbagai pernik strategi penjualan kampaye dan berhasil merayu donatur-donatur kelas kakap, Pito yang tanpa kenal lelah mencuci otak para calon donatur, Kw yang tulisan-tulisannya menggugah detikinet untuk ikut mempublikasi kampaye ini, Miko yang usulnya kepada MC menjadikan kang Presiden bisa tampil selama acara break season, Yudi yang sampai harus dimarahi bosnya karena meninggalkan pekerjaan, Kang Wahyu yang telah mempublikasikan berbagai kegiatan Muktamar dan kampanye ini lewat harian Surya-nya, Luthfi yang sampai harus menunda skripsinya karena berpartisipasi dalam kampanye, Gita yang merelakan Entry Codenya untuk dipakai kyai Gembul masuk ke dalam pesta. Gambar diambil dari sini tanpa ijin… Bantuan disalurkan ke: No rekening: 0751371054 atau ke Bapak saya yang mengurusi program ini di Bangsari
Untuk itu, saya sebagai bagian komunitas Bunderan HI yang menjadi motor kampanye ini sekaligus mewakili anak-anak Bangsari ingin mengucapkan terima-kasih sebesar-besarnya kepada:
Atas nama : Much. Syaefulloh
Bank BCA cabang Sabang Jakarta pusat
Email : much.syaefulloh@gmail.com, ipoul_bangsari@yahoo.com
YM! : ipoul_bangsari
HP: 081578820013
Alamat: Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta Pusat atau
Darso Moh. Dahroni
d.a: dusun Karang Reja, RT 03 RW 04, desa Bulaksari (Bangsari), Kec. Bantarsari, Kab. Cilacap.
2 comments October 29, 2007
Komik Bloggers for Bangsari
Desain oleh dokter tito
Bantuan disalurkan ke:
No rekening: 0751371054
Atas nama : Much. Syaefulloh
Bank BCA cabang Sabang Jakarta pusat
Email : much.syaefulloh@gmail.com, ipoul_bangsari@yahoo.com
YM! : ipoul_bangsari
HP: 081578820013
Alamat: Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta Pusat atau
atau ke Bapak saya yang mengurusi program ini di Bangsari
Darso Moh. Dahroni
d.a: dusun Karang Reja, RT 03 RW 04, desa Bulaksari (Bangsari), Kec. Bantarsari, Kab. Cilacap.
Add comment October 29, 2007
Nyumbang kambing dapat kaos blogger
Karena hal ini dimaksudkan untuk keperluan penggalangan dana, mohon maaf jika hanya mereka yang menyumbang minimal Rp 150 ribu saja yang akan mendapatkannya. Kaos dicetak terbatas hanya 50 buah. Sekalipun tidak menghadiri kedua cara tersebut, Anda tetap bisa memesan mulai dari sekarang. Kontak saja: Saatnya tak hanya posting, blogwalking, tapi juga dukung mereka sekolah. bahtiar: 081328484289 (bahtiar Bantuan disalurkan ke: No rekening: 0751371054 atau ke Bapak saya yang mengurusi program ini di Bangsari
pitik: 08157123875 (hadik1@gmail.com)
ipul: 081578820013, 02199183863 (much.syaefulloh@gmail.com)
mitha: 0818794474 (mita_ald@yahoo.com)
iqbal: 02199562833, 081574852877 (i.prakasa@gmail.com)
hedi: 081311401084
pito: 0818691666, 08882799894 (pitopoenya@yahoo.com)
Atas nama : Much. Syaefulloh
Bank BCA cabang Sabang Jakarta pusat
Email : much.syaefulloh@gmail.com, ipoul_bangsari@yahoo.com
YM! : ipoul_bangsari
HP: 081578820013
Alamat: Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta Pusat atau
Darso Moh. Dahroni
d.a: dusun Karang Reja, RT 03 RW 04, desa Bulaksari (Bangsari), Kec. Bantarsari, Kab. Cilacap.
3 comments October 29, 2007
