Buku Pelajaran Untuk Siswa MTs Salafiyyah Bangsari
Di belahan bumi lain sekolah tanpa buku telah menjadi trend. Karena mereka belajar langsung berhadapan dengan komputer.
Hal itu juga terjadi di bangsari, cilacap. Namun dengan alasan yang berbeda. mereka belajar tanpa buku bukan karena telah adanya infrastruktur jaringan computer yang menggunakan koneksi broadband. namun karena tak kuat membeli buku.
sebenarnya pemerintah telah membeli hak cipta dari sebuah penerbit dan meng”ebook” kan semua mata pelajaran yang di ujiankan nasional. Di kampung pesisir pantai selatan itu, seperti banyak daerah lain di Indonesia belum mengenal apa itu computer. Apalagi dunia internet, online, ebook?
Untuk itu project blogger for bangsari kali ini berusaha membantu anak-anak mts salafiyyah tersebut memecahkan masalahnya. Yakni dengan menyumbangkan buku pelajaran.
Untuk sementara hanya kelas tiga saja. Karena pada bulan juni mereka yang berjumlah 142 anak itu akan menghadapi uan. Jumlah buku yang diperlukan adalah 6 (mata pelajaran) x 142 (jumlah siswa) = 852 buku
Diharapkan buku-buku itu bisa membantu mereka belajar lebih baik. Buku-buku yang rencananya akan dibeli di Jakarta itu adalah seluruh mata pelajaran yang akan di ujian nasional”kan. Yakni bahasa Indonesia, bahasa inggris, ipa, ips, matematika.
Semua siswa gratis meminjamnya. Begitu mereka lulus buku masih bisa dipakai oleh adik-adik kelasnya sampai lima tahun ke depan. Ini sesuai janji pemerintah yang akan mengubah kurikulum pendidikan minimal lia tahun sekali.
Keseluruhan biaya yang diperlukan untuk membeli buku itu sekitar 22 jutaan. Sampai sekarang telah terkumpul sekitar 10 jutaan. Kepada pembaca yang ingin berpartisipasi, silakan menstranfer ke rekening berikut:
No rekening: 0751371054
Atas nama : Much. Syaefulloh
Bank BCA cabang Sabang Jakarta pusat
Email : much.syaefulloh@gmail.com, ipoul_bangsari@yahoo.com
YM! : ipoul_bangsari
HP: 081578820013
Alamat: Jl Kebon Kacang II no 70 Tanah Abang Jakarta Pusat atau
Atau bisa juga datang langsung ke bhi tiap jumat malam mulai pukul 22:00 waktu plasa Indonesia.
2 comments November 3, 2008
Program kambing setelah hampir setahun

Orang kampung kami mempercayai setiap tangan memiliki kemujurannya sendiri. Ada yang dianugerahi kemujuran berdagang, ada juga bertani. Dan ada juga tangan yang dari sananya dianugerahi kemujuran dalam memelihara hewan piaraan.
Hoki, istilah orang kota. Apapun yang dikelola, bisa menjadi sumber kehidupan bagi si empunya. Begitulah orang kampung kami memahami cara Tuhan memberi rejeki.
Tak terkecuali dalam hal donasi kambing. Program bloggers for bangsari yang sudah berlangsung hampir setahun ini (penggalangan dimulai September – November tahun 2007 ) itu paling tidak telah sedikit membantu perekonomian anak-anak Bangsari.
Hamdan misalnya. Saat itu anak yatim tertua dari tiga bersaudara ini memperoleh jatah 2 bibit dan 3 anakan (serta 1 pejantan yang dipergilirkan juga untuk pemelihara yang lain).
Karena keuletannya, kambingnya berbiak menjadi 10 ekor (5 sudah induk, 1 jantan dan 4 anakan).
Sekarang keadaan ekonomi keluarga bocah laki-laki yang berada di sekolah menengah itu menjadi sedikit lebih baik. Kini ia bisa membayar sekolah dengan lancar. Dan yang terpenting, biaya sekolah adik-adiknya juga sudah tersedia.
Dari sebanyak 16 anak yang mendapatkan “bantuan” memang tak sedahyat perkembangan kambing yang dipiara hamdan. Kebanyakan perkembangannya biasa saja. Sehingga belum memungkinkan untuk dialihkan ke anak lain yang membutuhkan.
Malang dialami oleh Arif Fauzi yang pada awalnya mendapatkan 2 anakan kambing etawa. Satu mati keracunan dan satunya lagi sampai sekarang tidak/belum bunting. Tampaknya dia harus lebih bersabar. Konon jenis kambing etawa perlu waktu lebih lama untuk memeliharanya sampai beranak. Tapi dia memutuskan untuk mundur. Kambingnya dilimpahkan ke Saefulloh.
Nasib tak begitu baik juga dialami Amin Ridho. Satu kaki kambingnya patah dan diamputasi sehingga kambingnya akan diganti dalam waktu dekat. Untungnya, satunya lagi dalam keadaan gemuk dan sehat. Sayangnya, belum bunting.
Yang paling unik adalah apa yang dilakukan oleh Zaenuri. Tampaknya ia tak sabar untuk segera memperoleh hasil yang banyak tanpa kerja keras. Inginya, ia mendapatkan bantuan kambing tanpa syarat. Karena menolak kesepakatan, ia mundur dan mengembalikan kambing yang telah dipiaranya selama sebulan. Kambingnya dilimpahkan ke Amin Makmun.
Selama hampir setahun sejak program bloggers for bangsari di luncurkan, secara umum perkembangan kambing cukup memuaskan. Dari semula hanya 46 ekor (19 induk, 4 jantan dan 23 anakan) yang diwujudkan secara bertahap dalam jangka beberapa bulan, telah berkembang menjadi 70 ekor (31 induk, 5 jantan dan 34 anakan). Nyaris dua kali lipat.
Satu dua indukan sudah hampir siap dipindah-tangankan, namun secara umum belum bisa dikarenakan masih belum cukup menghasilkan secara hitung-hitungan mereka.
Yang lumayan membanggakan, salah satu pemelihara kambing (Yasrofi) sudah meneruskan di Aliyah baru kampung kami.
Untuk laporan rinciannya silahkan lihat disini. Gambar-gambarnya bisa dilihat disini.
Terima kasih pada panitia pesta blogger tahun lalu yang sudah mengijinkan kami bergerilya selama acara.
9 comments August 20, 2008
Email dari Mba Sofia Kartika tentang Bloggers for Bangsari
Pada 3 Juni 2008 12:03, Sofia Kartika (sofia.kartika@gmail.com menulis:
Dear Pak
Saya berencana menulis panjang soal blog dan MDG’s, saya butuh informasi mengenai bangsari, sebenarnya saya juga membutuhkan informasi stop aksi kelaparan, tapi saya tidak memiliki kontaknya, apakah bapak memiliki?
Untuk kepentingan penulisan tersebut, saya ada beberapa pertanyaan, soal blogger for bangsari:
- Pertanyaan klasik, bagaimana perkembangannya sekarang? apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain?
- Apa untungnya program bangsari yang disosialisasikan melalui blog ?
- Dan mengapa isu pendidikan menjadi penting dipilih?
Mungkin itu dulu pak, saya minta alamat FAQ nya bangsari di blog yang mana yah?, saya kehilangan alamatnya.
Terima kasih sebelumnya
Salam
Sofie
Jawaban saya
Mba Sofie,
Terima kasih atas apresiasinya terhadap kambing bangsari.
Mengenai Stop kelaparan, saya rasa akan lebih tepat jika mba sofie menghubungi mba Chika, yang setahu saya adalah salah satu penggagasnya.
sekarang mengenai pertanyaan mba sofie
pertanyaan pertama: bagaimana perkembangannya sekarang? apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain?
Sejauh ini, kami sudah berhasil mengumpulkan sebanyak Rp 20.625.000, – yang sudah kami salurkan menjadi sejumlah 28 kambing. Ada juga kami terima bantuan dalam bentuk kambing sebanyak 15 ekor dari salah satu donatur. sehingga sekarang total kambingnya ada 43 ekor. Menurut info dari bapak saya yang memantau langsung di lapangan, beberapa kambing indukan sudah beranak, namun jumlahnya belum saya konfirmasi sejauh ini. Setiap perkembangan, saya update di sini. Namun beberapa bulan belakangan saya belum sempat mudik, sehingga informasi terbaru belum sempat saya update. mohon maklumnya.
Sisa saldo sejauh ini Rp 3.520.000,- yang oleh dewan guru MTs tersebut akan digunakan pada awal tahun ajaran ini. Sejauh ini panitia di Jakarta memutuskan untuk menghentikan pengumpulan dana (meskipun di tingkat lapanan masih membutuhkan) dengan alasan:
- supaya penyaluran dana yang terkumpul bisa tersalurkan dengan baik.
- untuk melihat perkembangan program ini di lapangan.
- untuk menghindari kesan “mencari uang”.
- jika dirasa perlu, mungkin akan dibuka kembali penggalangan dana untuk itu.
Mengenai apakah cara yang dilakukan di bangsari ini akan dikembangkan di tempat yang lain, sejauh ini belum. Saya dan teman teman sesama blogger sudah pernah mencoba menjajagi kemungkinan di tempat lain. Teman teman di Jawa timur pernah mencoba hal ini. Hanya saja, sejauh ini kami belum menemukan orang yang bersedia mengurusi hal ini di tempat lain.
pertanyaan kedua: Apa Untungnya program bangsari yang disosialisasikan melalui blog?
Keuntungan sosialisasi melalui blog yang kami rasa:
- sarana yang mudah, murah dan efektif
- jejaring ranah blog yang kuat
- pengguna internet adalah kalangan yang mapan secara ekonomi, jadi kemungkinan lebih tepat sasaran
- jangka waktunya tak terbatas, sehingga diharapkan tercapai dua hal: penggalangan solidaritas akan terus bisa digalang dan yang kedua bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan yang kurang lebih sama di tempat lain
pertanyaan ketiga: mengapa isu pendidikan menjadi penting dipilih?
Ya karena kebetulan saya berasal dari kampung bangsari itu. saya melihat, kemiskinan dan kebodohan adalah yang sangat sulit di berantas. Banyak masalah sosial berawal dari kemiskinan. Satu-satunya cara, menurut saya dalam mengatasi masalah bangsari ya dengan pendidikan. Masalahnya, menyekolahkan anak menurut orang miskin di kampung saya itu adalah kerugian dalam 2 hal sekaligus:
- sekolah hanya menghabiskan biaya
- jika tak sekolah, si anak bisa membantu orang tua mencari nafkah
sehingga pemberian kambing diharapkan bisa mengatasi 2 hal:
- si anak bisa tetap sekolah
- si anak juga menghasilkan uang selama sekolah dengan memelihara kambing. Kambing juga sering jadi aset keluarga
Sekian dulu jawaban dari saya, jika ada yang kurang jelas, silahkan kontak saya di 081578820013. Atau silahkan datang ke bunderan HI setiap jumat malam sekitar jam 21:00. Atau jika dirasa jadwalnya kurang tepat, silahkan kontak saya untuk bertemu di waktu dan tempat yang lain.
terima kasih…
6 comments June 3, 2008
Membaca MDGs di Blog
Diambil dari Kolom Opini Koran Tempo Edisi Online Sabtu 08 Maret 2008 dari sini.
Membaca MDGs di Blog
Sofia Kartika dan Henny Irawati, AKTIVIS LEMBAGA PARTISIPASI PEREMPUAN
Blog membuat orang bersemangat, kata Julien Pain dalam buku saku untuk blogger, Reporters without Borders. Antusiasme ini lahir dari keleluasaan menjadikan blog sebagai media alternatif menuangkan apa-apa yang disebut ekspresi diri. Dalam “buku harian online” ini beragam gaya penulisan dan informasi dapat ditemukan. Kini tersebar blog tentang resep masakan, fotografi, kritik atas kebijakan, sastra, dan sebagainya. Satu hal yang digarisbawahi Pain: para blogger ini menggoyahkan kemapanan media-media mainstream di negara-negara sekelas Amerika Serikat, Cina, ataupun Iran.
Indonesia berkejaran pula dengan laju teknologi ini. Pada 2006, pemerhati blog di Indonesia, Enda Nasution, memperkirakan pada 2007 blogger di Indonesia mencapai angka 45 ribu. Namun, Enda meragukan ramalannya itu. Melesatnya pertumbuhan teknologi bisa saja membuat angka yang ia sebut melenceng jauh dari jumlah yang sebenarnya. Awal 2008, keraguan Enda terbukti. Saat ini diperkirakan telah lahir 150 ribu blog di Indonesia. Dalam Pesta Blogger 2007, selain ditetapkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh mendorong komunitas blog mencapai angka 1 juta pada 2008. Apa yang ada di benak Bapak Menteri? Mengapa sedemikian penting gagasan tentang blog ini?
“Blog harus bisa memberikan manfaat edukasi, memberdayakan,” ujarnya di hadapan 450 peserta yang datang dari seluruh penjuru negeri.
Apa yang dimaksud dengan “manfaat edukasi (yang) memberdayakan” ini tidak diperinci oleh Bapak Menteri. Suatu kali, ketika sedang mencari data tentang target pembangunan milenium atau Millennium Development Goals (MDGs), saya menemukan sebuah posting menarik, “Kemarin ketika mid semester mata kuliah amdal, keluar soal tentang MDGs. Karena diriku baru pertama kali mendengar frase itu, aku pun nyari ke Internet dan ternyata daku emang kuper kali yah karena sudah banyak yang membahas soal MDGs. Berikut petikannya dilaporkan langsung oleh reporter kita Tarkhiena dari MP TV.” Lalu Tarkhiena menulis perihal pengetahuan barunya yang ia dapat dari wikipedia itu di blognya.
Tidak hanya bertambah data yang saya dapat, membesar pula pengetahuan saya tentang sejumput respons dari masyarakat yang, barangkali, luput dari perhatian pemerintah.
Blog memberi ruang bagi pemiliknya yang tidak cuma datang dari profesi itu untuk menuangkan cerita apa saja di sekitar mereka. Keberagaman profesi–mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantor, seniman, selebritas, sampai tokoh politik, jurnalis, dan aktivis–menyulut pula berbagai tema yang ditulis. Dari tema-tema tersebut, salah satu di antaranya MDGs.
Indonesia, sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, turut mendukung komitmen percepatan pembangunan dan pemberantasan kemiskinan yang ditandatangani di New York itu. Selanjutnya, deklarasi tersebut diterjemahkan dalam delapan isu kritis, yakni pengurangan kemiskinan dan kelaparan; pendidikan untuk semua; kesetaraan gender; pengurangan angka kematian ibu dan anak; peningkatan kesehatan dan gizi ibu dan anak; pengurangan persebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya; lingkungan yang berkelanjutan; serta pengembangan kemitraan untuk pembangunan global. Waktu yang diberikan untuk mencapai target delapan bidang tersebut tidaklah lama: 15 tahun terhitung sejak penandatanganannya pada 2000.
Kita masih punya waktu tujuh tahun lagi. Sungguh bukan waktu yang panjang, apalagi mengingat Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) setelah puluhan tahun pun belum tersosialisasi dengan optimal.
Kampanye MDGs sudah sering kali dilakukan. Namun, kedelapan tujuan MDGs seperti masih di awang-awang. Ia harus diterjemahkan, baik untuk kepentingan pencapaiannya maupun dalam kebutuhan sosialisasinya. Dan tugas ini, menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta dalam laporan pencapaian MDGs 2007/2008, bukanlah semata-mata tugas pemerintah, melainkan merupakan tugas seluruh komponen bangsa. Namun, apa yang bisa dilakukan sebagian komponen bangsa tersebut? Saya mengusulkan untuk meniru program Blogger for Bangsari.
Blogger for Bangsari (http://bangsari.blogspot.com) hadir sebagai lanjutan program keberlanjutan pendidikan anak-anak di Desa Bangsari. Mereka menarik kepedulian blogger dan bukan blogger untuk menjadi donatur melalui banner plus gaya kampanye komikal, yang tidak terlalu serius, tapi tetap berisi. Donasi tidak dibatasi dalam bentuk uang, bisa juga kambing dengan sistem paroan, buku, sepatu, seragam, ide, dan perhatian. Kepedulian juga bisa berbentuk kontrol atau menjadi mata rantai kepedulian dengan menulis ajakan bergabung dengan program ini di blog masing-masing. Selain bisa ditulis oleh siapa saja dengan format yang tidak mengikat dan biaya yang relatif murah (apalagi jika dibandingkan dengan membuat iklan layanan masyarakat di televisi atau koran), blog yang tengah diakrabi ini bisa menjadi media alternatif.
Namun, sebagaimana juga diperingatkan Pain, blog juga rentan terhadap kekhawatiran, ketidakpercayaan, penyalahgunaan, dan kesalahan persepsi, terlebih untuk isu-isu yang baru dipahami oleh sebagian orang. Sebut saja, poin ketiga MDGs, kesetaraan gender dan peningkatan kualitas hidup perempuan. Dalam salah satu entrinya, blog MDGs menyebutkan, “Peningkatan kesehatan ibu memiliki tujuan untuk memperkuat pangsa pasar kaum wanita. Mengingat kaum ibu ialah kaum yang lebih konsumtif dan lebih banyak kebutuhannya dibandingkan pria.” Alih-alih mempromosikan pemberdayaan perempuan, tulisan tersebut justru mengekalkan stereotipe tentang perempuan. Tapi, tunggu dulu, blog juga dilengkapi mekanisme kontrol melalui komentar pembaca dan tautan link-nya. Anda bisa membenturkan pendapat Anda dengan tulisan yang ada, dengan harapan si penulis memberi jawaban sehingga terjadi diskusi. Atau Anda bisa menuliskan pendapat tersebut di blog Anda sendiri.
Blogger di Indonesia, berapa pun jumlahnya, dapat turut serta menjadi penggerak dalam upaya pencapaian target-target MDGs. Entah itu sebagai media kampanye dan kontrol bagi pemerintah, entah masyarakat itu sendiri. Mengapa tidak dimulai dari Anda?
14 comments March 11, 2008
Cerita dari tur wedus bagian 2: kunjungan kambing

Saat kami sampai ke bangsari, pinjaman kambing yang sudah disalurkan sebanyak 43 ekor. Adapun jumlah anak yang sudah mendapatkan pinjaman kambing adalah sebanyak 16 anak, 3 orang sedang dalam tahap tindak lanjut dan 2 anak sebagai cadangan. Daerah sebarannya meliputi: Karang reja (dusun yang saya tinggali), Cipaku ( di ujung timur bangsari, dekat hutan perbukitan), Medeng (sebelah Cipaku), Sidadadi (bersebelahan dengan dusun saya di arah barat), Cililing (sebelah barat Sidadadi) dan Jakatawa (dekat Sitinggil, di arah selatan). Saldo yang tersisa masih 3, 52 juta rupiah yang rencananya akan digunakan untuk 3 anak lagi dalam waktu dekat. Nama anak dan tempat tinggalnya adalah sebagai berikut:
- Cipaku (7 anak): Nur Huda, Amin Rido, Andriyanto, A. Baehaqi, Saefulloh, Nurotun Hasanah, Yasrofi
- Medeng (3 anak): Hamdan, A. Rubangi, Wifayatul Amani (1)
- Karangreja (2 anak): Irfan Sutrisno, Arif Faozi
- Sidadadi (2 anak): Bilkis Andiyah, Zaenuri
- Jakatawa (1 anak): Basirin
- Cililing (1 anak): Wifayatul Amani (2)
- On Progress: Tukiran dan Samsul Maarif (Karangreja), Muhsinun (Petenanangan, dekat Gandrung Mangu)
- Cadangan: Nasirotul Fajriyah (Karangreja), Umi Faizah (Medeng)
Catatan: terdapat 2 nama kembar dengan orang yang berbeda, atas nama Wifayatul Amani.
Sebagai tambahan informasi, semalam saya mendapat 2 pesan pendek dari rumah. Pesan pertama mengabarkan satu kambing jenis etawa yang dipelihara Arif Nurfaozi mati akibat keracunan pakan. Pesan kedua berisi berita gembira, kambing Wifayatul Amani (1) telah melahirkan 2 ekor jantan.
Laporan detilnya bisa diunduh disini.
Karena para penerima kambing tersebar di beberapa tempat di bangsari, kami mengunjungi mereka menggunakan mobil pinjaman berikut sopirnya dari bu lik dan 2 sepeda motor. Bapak saya, Iqbal, Hadi, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita mengendarai mobil. Saya, Ibun, mukhlis (adik saya) dan gembong (adik ipar saya), serta baha (tetangga rumah) mengendarai sepeda motor. Tujuan pertama adalah dusun Cipaku dan Medeng, sekitar 2 kilometer dari rumah saya. Di sini ada 7 murid yang menerima pinjaman. Daerah ini relatif tertinggal dibanding daerah lain di bangsari. Sedangkan Medeng bersebelahan dengan Cipaku, juga masih dekat dengan hutan. Di sini ada 3 murid yang menerima pinjaman kambing.
Baru saja hendak sampai di tujuan, pepeng saya mendapat telpon dari pepeng. Begitu saya angkat telpon, terdengar suara dari seberang sana. “Makan dulu ndak?” Eh, dii tengah jalan tiba tiba dia bilang:
“Lha maunya gimana?”
“Ya dijemput no….”
“Ok. Segera menuju tekape. Sendiri pa sama temen?”
“Sendiri.”
“Sip”
Klik! Telpon pun dimatikan dan saya meluncur menjemput pepeng yang baru tiba dari semarang. Begitu ketemu, saya salami dan langsung nangkring di belakang saya. Melewati rumah saya, saya tawari:
“Ndak, masih kenyang”
“Dari pagi perutku ndak kemasukan nasi. Laper nih…”
Gubrak!
“Jadi, balik nih?”
“Mmm… Ngga usah deh. Ntar aja, ngga papa”
Perjalanan pun dilanjutkan. Alhasil, saya ketinggalan kunjungan. Terus terang, selain penerima pertama tidak satupun dari daftar yang bapak saya beri saya kenal sebelumnya. Nama-nama itu sendiri dikumpulkan bapak bersama dewan guru. Jadi, saat saya sampai, saya tak tahu anak keberapa dan nama yang sedang dikunjungi. Balibul punya rekaman videonya lengkap.
Dari Cipaku, kami menuju medeng. Anak pertama adalah Wifayatul Amani. Dia sedang membantu ibunya memasak di dapur. Saya sempat menuju dapur dan sempat menyapa neneknya yang sedang terbaring sakit di dipan dekat meja makan yang kosong.
“Ngga sakit kok. Cuma terkena seng dan susah dibawa jalan. Kalo dibawa jalan sakitnya terasa sampai ke perut”, katanya.
“Langsung ke dokter ya. Semoga cepat sembuh.”
Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore dan langit bermendung tebal. Kami segera pamit untuk mengunjungi Rubangi dan Hamdan. Seperti sudah diceritakan pada seri pertama, rumah mereka bersebelahan. Di rumah Rubangi kami mendapati satu-satunya kambingnya (bukan kambing dari program ini) yang baru beranak di ruang tamu. Ya, di ruang tamu sebelah meja dan tempat duduk tamu. Ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur, tempat jemuran dan tempat sepeda. Setelah ngobrol sebentar, kami pun pamit. Ternyata ibunya sempat menyuguhi kami semua segelas teh panas. Lumayan untuk menghilangkan haus dan menghangatkan badan. Hujan mulai turun dan kami harus bergegas. Setelah menyeruput teh, kami menuju hamdan.
Rumah Hamdan cuma berjarak sekitar 50 meter. Dia dan 2 saudaranya yatim. Seperti kebanyakan daerah situ, ibunya buruh. Hujan yang semakin deras dan waktu yang sudah jam 5 membuat kami menyudahi kunjungan ini.
Saya berencana esok harinya kita mengunjungi sisanya, sekitar 6 orang lagi plus 3 orang yang dalam proses. Namun teman-teman yang lain punya pandangan lain.
“Kunjungan sudah cukup merepresentasikan, jadi beso ke Nusakambangan saja”, usul salah satu.
“Betul”, kata yang lain serempak.
“Ok, besok kita kesana.”
Dasar ngga mau rugi, bilang aja pingin jalan-jalan. hehehe
Saya langsung teringat pada blogger cilacap ini. Untuk minta panduan dan minta makan-makan gratis. Memanfaatkan keseleban kami tentunya. hehehehe.
6 comments January 8, 2008
Cerita dari tur wedus bagian 1: perjalanan
Akhirnya yangberangkat ke bangsari dari Stasiun Kota ada 9 orang. Gus Hadi Pitik, Kyai Iqbal Balibul, Ibun, 3 orang temannya Ibun (Gigih, Wildan, Yusuf), Mita, Vita (yang baru kami kenal secara fisik) dan saya sendiri. Mila hanya mengantarkan kami sampai kereta berangkat. Ada acara keluarga di Bandung esok harinya. Iqbal hampir saja ketinggalan kereta setelah sebelumnya terjebak macet dari serpong dan dia baru muncul 5 menit sebelumpemberangkatan. Kang pres memutuskan tidak ikut disebabkan sedang meriang selama seminggu, begitu juga istrinya. Yudi harus menyelesaikan proyek besarnya di kantor. Pito sedang terkena wajib pulang setelah liburan panjang sebelumnya harus ngendon di kantor. Meski begitu, dia sempat ikut menunggu rombongan kami berangkat dari kos kebon kacang. KW jauh-jauh hari sebelunya sudah mengabari tak bisa ikut. Sam Hedi sedang banyak pekerjaan plus tak bisa meninggalkan kebaktian akhir tahun. Begitu pun rombongan dari semarang (kecuali pepeng) dan jogja juga belum bisa bergabung.Sepanjang jalan sampai dengan bandung, penumpang terus bertambah banyak dan sepertinya tidak ada yang turun. Mungkin karena bertepatan dengan libur 4 hari, yang tentu saja menjadi alasan bagi orang jakarta untuk keluar kota. Tapi kereta ekonomi sepanjang saya tahu memang tidak pernah kehabisan penumpang. Mau libur atau tidak tetap saja banyak penumpang. Di Bandung, Bahaudin tetangga saya yang (seperti kebanyakan pemuda sana) bekerja di perusahaan garmen, ikut bergabung. Dengan wajah pucat pasi karena tak tidur, kaki bengkak akibat tak bisa bergerak leluasa, badan lengket dan bau, kebelet kencing dan pup, serta lapar plus haus yang mendera, sampailah kami di Gandrung. Sesampainya di rumah, makanan sudah menunggu. Oseng-oseng belut bakar pedas, opor mentok, oseng-oseng pepaya, oseng-oseng tempe, lumbu kobis favorit dan mendoan menunggu disantap. Mandi dengan cepat dan sesudahnya kami pun makan. Badan lelah perut kenyang, kami pun tidur. Sekitar jam sepuluh kalo tak salah ingat, dan baru saya baru bangun jam setengah satu. Saya bangunkan yang lain untuk sholat dan makan siang. Jam 2 siang, supir bu lik sudah siap
Dari stasiun Gandrung, kami naik bus ke Sitinggil. Sekitar 15 menit perjalanan. Di sini kami sempat mampir sebentar ke rumah kakak saya untuk meminjam motor. Dari Sitinggil jarak rumah saya masih 3 kilo lagi. Vita diboncengkan ibun dengan motor, dan Mita naik ojek. Gus pitik dan Kyai Balibul ngajak berjalan kaki sambil melemaskan otot. Yang lain mengamini. Jadilah kami bertujuh berjalan kaki.
Sepertiga jalan, warung mendoan di tepi saluran irigasi langganan saya sudah buka. Kami pun mampir. Pagi-pagi begini cocok sekali rasanya makan mendoan panas yang lebarnya seperti buku tulis itu sambil ngopi atau teh nasgitel. Namun karena jalan, berkeringat dan kehausan, kami semua memesan es teh. Hmmm… Mak nyus! Bertujuh kami cuma habis 17 ribu untuk 11 mendoan (rupanya sudah naik jadi seribuan sebuah) dan 7 es teh (juga seribu segelas).

Sehabis ngemil, ibun dan adik saya datang menjemput dengan sepeda motor. Balibul dan Gus pitik dibonceng duluan, sisanya jalan kaki. Lumayan untuk melemaskan kaki.
menunggu di depan rumah. Selanjutnya, kami mengunjungi kambing-kambing itu.
Add comment January 7, 2008
rute rute ke bangsari
menjawab pertanyaan-pertanyaan pada postingan ajakan tur wedus ke bangsari, berikut saya berikan rute-rute menuju ke sana.
dari jakarta
kereta
silahkan bergabung dengan rombongan dari stasiun senen. atau jika anda memutuskan berangkat sendiri, rutenya dari senen ambil kereta ekonomi jurusan cilacap dan turun di gandrung mangu. peserta akan dijemput disitu. perjalanan memakan waktu sekitar 10 jam, biaya 24 ribu rupiah.
bus
bisa juga naik bus dari terminal rambutan, grogol, pulogadung atau kalideres. setahu saya, bus hanya tersedia sampai dengan sebelum jam 6 sore. naiklah bus gapuraning rahayu yang ke cilacap via kawunganten (jangan yang via wangon), turun di pasar sitinggil. peserta akan dijemput disitu. perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam, biaya 50 ribu.
dari jogja:
kereta
kereta yang tersedia hanya ada satu jenis, kereta ekonomi jurusan bandung. berangkat dari lempuyangan sekitar jam 12:00 (kalau jadwalnya belum berubah) dan sampai di gandrung sekitar jam 16:30. peserta akan dijemput. meski ada juga juga kereta jam 22:00, sebaiknya jangan ambil yang ini karena kemungkian anda mendapatkan tempat duduk biasanya kecil.
bus
dari terminal giwangan atau bisa juga dari pasar gamping, naik bus jurusan yang ke cilacap langsung. (bisa juga menggunakan bus jurusan purwokerto, tapi sebaiknya jangan, karena akan ribet dan membingungkan.) perjalanan dari jogja ke cilacap memakan waktu sekitar 4-5 jam. sesampai di terminal cilacap, ganti bus jurusan sidareja dan turun di pasar sitinggil. dari cilacap ke sitinggil ditempuh kira-kira 1 jaman. setelah sampai di sitinggil, peserta akan dijemput.
dari semarang:
saya sendiri belum pernah ke semarang langsung. jadi, kira-kira begini. naiklah bus jurusan cilacap dan selanjutnya ambil jurusan sidareja, turun di pasar sitinggil. bisa juga ke purwokerto dulu, kemudian ganti bis yang ke cilacap. selanjutnya, idem. perjalan dengan kereta setahu saya belum tersedia.
alternatif lain, ambillah rute jogja.
dari salatiga:
karena menggunakan mobil sendiri, sampeyan bisa pergi sewaktu-waktu. ambil jalur magelang, purworejo, kebumen, gombong, dan buntu. di perempatan buntu, sampeyan ambil yang lurus (arah cilacap). belok kiri juga menuju cilacap, tapi perjalan akan sedikit berbelok. tapi jangan samapi salah belok ke kanan, karena akan tambah jauh melalui purwokerto. terkecuali sampeyan mau mencicipi sroto sokaraja. dari cilacap kota, ikuti jalur bus jurusan sidareja. sesampai di pasar sitinggil, kabari saya. berapa waktu tempuh dan biayanya, saya tak bisa perkirakan.
dari surabaya:
kereta
ambil jurusan bandung, turun di gandrung. peserta akan dijemput. perjalanan memakan waktu sekitar 12 jam, biaya sekitar 30 ribu.
bus
ambil jurusan cilacap, turun di terminal cilacap. selanjutnya idem.
untuk keterangan lebih lanjut, silahkan kontak saya…
Add comment December 14, 2007
tour wedus ke bangsari
bagi yang berminat silahkan mendaftar (lewat komen juga boleh), atau datang saja langsung ke stasiun kota pada tanggal dan waktu tersebut. untuk menjaga kemungkinan tidak ketinggalan kereta dan memastikan mendapat tempat duduk, sebaiknya para pembeli tiket sudah standby di stasiun kota sebelum magrib. bisa juga konfirm dulu ke saya untuk reservasinya. halah. biaya sekali rp 24 ribu sekali jalan.
maap postingan ini tidak berhubungan dengan tulisan sebelumnya. soalnya lagi buru-buru mau jalan-jalan dulu nih. hehehehe.
Add comment December 11, 2007
Tutup
untuk anak-anak sekolah di bangsari ditutup. Dana brutto yang terkumpul sejauh ini sebesar Rp 21.450.000,- plus 15 ekor kambing yang dikirim secara langsung oleh seseorang ke bangsari. Setelah dikurangi dana kampanye berupa kaos dan sticker, netnya sebesar Rp 19.050.00,-.
Info sekilas dari bapak yang saya dengar via telepon, uang tersebut sudah dibelanjakan untuk membeli 28 ekor kambing dengan berbagai ukuran. Ditambah dengan 15 kambing sumbangan lain, total terdapat 43 kambing untuk mereka.
Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas segala apresiasi dan sumbangannya baik langsung maupun tidak.
Nah, selanjutnya kami mengajak saudara-saudara yang punya waktu dan kesempatan untuk meninjau para siswa tersebut saat akhir tahun ini. Anggap saja ini Tour de Bangsari. Siapa berminat, silahkan daftar. Gratis…
Pengumuman lain ada di balibul.
Add comment November 30, 2007
Kiriman 15 kambing
Senin, 12 November 2007 pukul 18:15, datang kiriman kambing ke bangsari dari seseorang yang tetap misterius hingga kini. Info via telepon menyebutkan, kiriman itu terdiri dari 15 ekor kambing jenis etawa: 1 Indukan dewasa, 12 cempe besar dan 2 jantan dewasa.
2 comments November 13, 2007

